Minggu, 15 Februari 2009

Dari Kitab Al-Mawahib Al-Qastallani [7]: Kelahiran Nabi

Dari Kitab Al-Mawahib Al-Qastallani [7]: Kelahiran Nabi

muslimdelft.nl

Pengantar

Kitab Mawahibul Laduniyyah bil Minah al-Muhammadaniyyah (Karunia Ilahiah dalam Bentuk Karunia Muhammadaniyyah) ditulis oleh Imam Ahmad Shihabuddin ibn Muhammad ibn Abu Bakr al-Qastallani (wafat 923H/1517 M), seorang ahli hadits yang mengarang syarah Sahih Bukhari (Irsyad as-Sari). Kitab Mawahib karangan beliau ini adalah kitab yang berisi biografi Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam.

===============================================

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Wassholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyaa-i wal Mursaliin Sayyidina
Muhammadin wa ‘ala aalihi wasahbihi ajma’in

dari
Mawahib al-Laduniyyah bi al-Minah al-Muhammadaniyyah[*]
(Karunia Ilahiah dalam Bentuk Karunia Muhammadaniyyah)
oleh Ahmad Shihab Al Deen Al Qastallani

Kelahiran Ajaib dari Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam (bagian 2)

Di antara keajaiban-keajaiban kelahiran Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam telah diriwayatkan
pula oleh Ya’qub ibn Sufyan, dengan rawi-rawi yang hasan, dalam Fath
Al Bari
[1]. Ia berkata bahwa Istana Kisra, kaisar dari Persia berguncang
dan empat belas balkonnya runtuh; air Danau Tiberia menguap habis;
api Persia padam (menurut berbagai riwayat, api ini telah menyala non-
stop selama seribu tahun); dan di Langit keamanan diperketat, dengan
dipenuhi lebih banyak penjaga dan bintang penembak yang mencegah
setan bersembunyi di sana untuk mencuri berita-berita langit.

Menurut suatu riwayat dari Ibn ‘Umar (RA) dan yang lain, Nabi
Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam dilahirkan dalam keadaan telah terkhitan dan tali
pusarnya telah terputus. Anas (RA) meriwayatkan bahwa Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam
bersabda, “Salah satu dari tanda-tanda kehormatan yang telah
dikaruniakan Tuhanku adalah bahwa aku dilahirkan dalam keadaan
terkhitan, dan tak seorang pun melihat bagian pribadiku.”

Ada beberapa pendapat berbeda berkenaan dengan tahun kelahiran Nabi
Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam. Mayoritas setuju bahwa beliau dilahirkan dalam Tahun
Gajah, dan bahwa beliau dilahirkan lima puluh hari setelah peristiwa
gajah Abrahah, dan kelahiran beliau adalah pada saat fajar malam
kedua belas di bulan Rabi’u al-Awwal. Ibn ‘Abbas (RA) berkata,
“Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam dilahirkan di hari Senin, diberikan kenabiannya pada
hari Senin, berhijrah dari Makkah ke Madinah di hari Senin, tiba di
Madinah di hari Senin, dan membawa batu hitam (Hajar al-Aswad) juga
di hari Senin; selain itu, peristiwa Fathu Makkah (kemenangan Makkah)
dan turunnya Surat Al-Maa-idah keduanya adalah pada hari Senin.”

‘Abdullah ibn Amr ibn Al Aas (RA) berkata, “Ada seorang pendeta di
Marr Al Zhahran, termasuk dari golongan orang-orang Syria, yang
namanya adalah Easa. Ia biasa berkata, ‘Sudah tiba saatnya bahwa di
kalangan orang-orang Makkah, akan lahir seorang anak yang kepadanya
akan berserah diri seluruh kaum Arab, dan orang-orang non-Arab akan
berada di bawah kekuasaannya. Ini adalah waktu baginya.’ Kapan saja
seorang bayi laki-laki baru dilahirkan, ia biasa bertanya tentangnya.
Pada hari kelahiran Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, ‘Abd al-Muttalib pergi ke luar
dan mengunjungi Easa. Ia keluar dan berkata padanya, ‘Semoga engkau
adalah ayah dari jabang bayi yang baru lahir yang terbarakahi yang
telah kuceritakan padamu tentangnya. Aku pernah mengatakan bahwa ia
akan dilahirkan di hari Senin, menerima kenabiannya di hari Senin,
dan wafat di hari Senin.’ Abd Al-Muttalib menjawab, ‘Malam ini,
saat fajar, aku memiliki bayi yang baru lahir.’ Sang pendeta
bertanya, ‘Kau beri nama apa dia?’ ‘Abd Al-Muttalib menjawab,
‘Muhammad’. Easa berkata, ‘Aku telah mengantisipasi bahwa bayi
yang baru lahir ini akan berasal dari masyarakatmu. Aku punya tiga
tanda atasnya: bintangnya muncul kemarin, ia dilahirkan hari ini, dan
namanya Muhammad.’ Pada kalendar matahari, hari itu adalah 20 April
dan diriwayatkan bahwa beliau lahir di malam hari.”

‘Aisyah (RA) berkata, “Ada seorang pedagang Yahudi berada di Makkah
pada malam saat mana Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam dilahirkan. Dia bertanya, ‘Wahai,
kaum Quraisy, adakah seorang bayi yang baru dilahirkan di antaramu?’
Mereka menjawab, ‘Kami tidak tahu.’ Ia berkata, ‘Malam ini, Nabi
dari ummat terakhir ini dilahirkan. Di antara kedua bahunya ada suatu
tanda yang terdiri atas beberapa rambut di atasnya seperti rambut
leher kuda.’ Mereka menemani Yahudi itu dan pergi ke ibunda Nabi,
dan bertanya padanya apakah mereka dapat melihat putranya. Ia pun
membawa putranya yang baru lahir kepada mereka dan mereka membuka
punggungnya dan melihat tanda kelahiran itu, saat mana sang Yahudi
jatuh pingsan. Ketika ia kembali sadar, mereka bertanya padanya,
‘Celakalah kamu. Apa yang telah terjadi padamu?’ Ia menjawab,
‘Demi Allah, kenabian telah pergi meninggalkan anak-anak
Israel.’

Al Hakim meriwayatkan bahwa Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam dilahirkan di Makkah dalam rumah
Muhammad bin Yousif. Beliau disusui oleh Tsuwaiba, budak perempuan
yang dibebaskan oleh Abu Lahab. Abu Lahab membebaskannya karena
Tsuwaiba telah membawa berita gembira akan kelahiran Nabi. Setelah
kematian Abu Lahab, Abu Lahab pernah terlihat dalam sebuah mimpi, di
mana ia ditanya, “Bagaimana keadaanmu?” Abu Lahab menjawab, “Aku
berada dalam Neraka. Namun, aku mendapatkan istirahatku setiap hari
Senin, saat mana aku mampu menyedot dan meminum air dari titik ini
yang terletak di antara jari-jariku,” dan ia menunjukkan dengan dua
dari ujung-ujung jarinya. “Ini adalah keajaiban yang kuterima karena
aku membebaskan Tsuwaiba saat ia membawa berita gembira kelahiran
Nabi padaku.”

Ibn al Jazri berkata, JIKA ABU LAHAB, YANG KAFIR, YANG DICELA DALAM
SUATU WAHYU AL QURAN, TETAP SAJA DIBERIKAN BALASAN ATAS
KEBAHAGIAANNYA DI SAAT KELAHIRAN NABI (SAW), BAGAIMANA DENGAN KAUM
MUSLIM DARI UMMAT BELIAU YANG BERGEMBIRA DI SAAT KELAHIRAN BELIAU
(MAULID NABI) DAN MELAKUKAN YANG TERBAIK UNTUK MERAYAKANNYA KARENA
KECINTAAN MEREKA PADA BELIAU?
Demi jiwaku, pahala dan balasan mereka
dari Allah, Yang Maha Pemurah akan berupa masuknya mereka ke dalam
surga-surga kebahagiaan yang dipenuhi karunia-karunia Allah.”

UMMAT ISLAM SELALU MERAYAKAN BULAN KELAHIRAN NABI SUCI KITA (SALL-
ALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM) DENGAN MENYELENGGARAKAN PESTA, MEMBERIKAN
BERBAGAI BENTUK SADAQAH, MENGEKSPRESIKAN KEBAHAGIAAN MEREKA, MENAMBAH
AMAL PERBUATAN BAIK MEREKA, DAN MEMBACA DENGAN HATI-HATI RIWAYAT
KELAHIRAN MUHAMMAD (SALL-
ALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM)
. Sebagai balasannya, Allah mengaruniakan
pada orang-orang beriman dengan barakah yang berlimpah di bulan ini.
Telah dibuktikan bahwa salah satu dari sifat-sifat kelahiran Nabi,
yang disebut sebagai Mawlid, adalah memberikan keselamatan sepanjang
tahun dan kabar gembira akan dipenuhinya semua harapan dan keinginan.
SEMOGA ALLAH SWT MELIMPAHKAN RAHMAT-NYA PADA SETIAP ORANG YANG
MERAYAKAN MALAM-MALAM BULAN KELAHIRAN MUBARAK MUHAMMAD (SALL-ALLAHU
‘ALAIHI WASALLAM) INI
.

Allahumma salli afdalas salaati ‘ala habiibikal Mushtofa Sayyidina Muhammadin wa ‘ala aalihi wasahbihi wasallaam

Catatan Kaki:
[*] diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari versi terjemahan bahasa Inggris di sunnah.org
[1] Syarah/Penjelasan/Tafsir Hadits Bukhari, karya Syaikhul Muhadditsin (Guru para Ahli Hadits) Ibn Hajar al-Asqalani

Dari Kitab Al-Mawahib Al-Qastallani [8]: Keajaiban Bayi Muhammad SAW

Dari Kitab Al-Mawahib Al-Qastallani [8]: Keajaiban Bayi Muhammad SAW

Pengantar

Kitab Mawahibul Laduniyyah bil Minah al-Muhammadaniyyah (Karunia Ilahiah dalam Bentuk Karunia Muhammadaniyyah) ditulis oleh Imam Ahmad Shihabuddin ibn Muhammad ibn Abu Bakr al-Qastallani (wafat 923H/1517 M), seorang ahli hadits yang mengarang syarah Sahih Bukhari (Irsyad as-Sari). Kitab Mawahib karangan beliau ini adalah kitab yang berisi biografi Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam.

===============================================

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Wassholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyaa-i wal Mursaliin Sayyidina
Muhammadin wa ‘ala aalihi wasahbihi ajma’in

dari
Mawahib al-Laduniyyah bi al-Minah al-Muhammadaniyyah[*]
(Karunia Ilahiah dalam Bentuk Karunia Muhammadaniyyah)
oleh Ahmad Shihab Al Deen Al Qastallani

Seorang Bayi yang Penuh Keajaiban

Halimah (RA) mengatakan, “Aku datang ke Makkah bersama beberapa perawat penyusu bayi dari suku Bani Sa’d ibn Bakr, mencari bayi-bayi yang baru lahir. Saat itu adalah tahun yang buruk untuk mencari bayi susuan. Aku dan anakku tiba dengan mengendarai seekor keledai betina, sedangkan suamiku menuntun keledai betinanya yang tua dan tak memiliki setetes pun susu. Selama dalam perjalanan ini, kami bertiga tak dapat tidur di malam hari dan aku pun tak memiliki apa pun dalam dadaku untuk menyusui anak kami.”

“Ketika kami sampai di Makkah, setiap wanita dari kelompok kami
ditawari untuk menyusui Nabi Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), untuk menjadi ibu
susuannya. Tapi, semua menolak tawaran itu ketika tahu bahwa beliau
adalah seorang anak yatim. Pada akhirnya, tak seorang pun teman
wanitaku meninggalkan Makkah tanpa membawa seorang bayi, namun tak
seorang pun mau menyusui Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam). Saat akhirnya aku tak dapat
menemukan bayi susuan lain, aku berkata pada suamiku bahwa aku benci
jika aku menjadi satu-satunya wanita dalam kelompok kami yang harus
pulang kembali tanpa membawa seorang bayi, dan bahwa aku ingin
membawa anak yatim itu.”

“Saat aku pergi untuk menjemputnya, ia (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) sedang mengenakan pakaian
wol, lebih putih daripada susu. Bau wangi misik menebar darinya. Di
bawahnya terdapat sepotong kain sutra hijau, dan ia pun sedang
terbaring di punggungnya dalam suatu tidur yang amat nyenyak. Aku
berhati-hati untuk tak membangunkannya, karena keindahan dan
kemuliaannya. Dengan berhati-hati aku mendekatinya, dan menaruh
tanganku di dadanya, ia pun tersenyum dan membuka kedua matanya. Dari
kedua matanya muncul suatu cahaya yang terpancar hingga ke Langit,
sementara aku sedang melihatnya. Aku menciumnya di antara kedua
matanya dan memberikan padanya dada kananku, dan memberikannya susu
sebanyak yang ia mau. Kemudian aku pindahkan posisinya ke dada
kiriku, tapi ia menolak. Begitulah selalu caranya menyusu padaku.
Setelah ia puas, aku pun memberikan pada anak laki-lakiku bagiannya.
Segera setelah aku membawanya ke tendaku, kedua dadaku pun mulai
mengucurkan susu. Dengan karunia Allah, Muhammad minum hingga ia
puas, demikian pula saudara laki-lakinya (anak Halimah, peny.).
Suamiku pergi ke unta tua kami untuk memerah susu bagi kami, dan
lihat, ia penuh dengan susu. Suamiku memerah susu dari unta kami
cukup banyak buat kami berdua untuk kami minum hingga kami puas, dan
kami pun melalui suatu malam yang indah. Kemudian suamiku berkata,
‘Oh, Halimah, sepertinya kau telah mengambil suatu ruh yang
barakah.’ Kami melalui malam pertama dalam barakah dan karunia, dan
Allah terus memberikan pada kami lebih banyak dan lebih banyak sejak
kami memilih Muhammad.”

“Aku pun memohon pamit pada ibunda Nabi, dan menunggangi keledai
betinaku, sambil membawa Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) di kedua tanganku. Keledaiku
mengejar dan melampaui semua hewan milik orang-orang lain yang datang
sebelumnya bersamaku, mereka melihat hal ini dengan penuh rasa
takjub. Saat kami tiba di kampung Bani Sa’d, suatu kampung yang
merupakan salah satu bagian paling kering dari tanah ini, kami
menemukan domba-domba kami penuh dengan susu. Kami memerahnya dan
dapat meminum banyak-banyak dalam suatu masa di mana tak seorang pun
lainnya mampu menemukan setetes pun susu dalam suatu kelenjar perah.
Yang lain mulai menceritakan hal ini pada yang lainnya, ‘Pergilah
merumput ke tempat gembala putri Abu Tsu’aib biasa pergi.’ Tetap
saja, domba-domba mereka kembali dalam keadaan lapar, tanpa susu
ditemukan dalam tubuh mereka, sedangkan domba-dombaku kembali penuh
dengan susu.”

Paman Nabi, Al ‘Abbas (RA) berkata, “Wahai, NabiyAllah, yang
membuat diriku masuk dalam agamamu adalah karena aku menyaksikan
salah satu tanda kenabianmu. Aku melihatmu dalam tempat tidur bayimu
(ketika Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) masih kecil) sedang bercakap dengan lembut pada
bulan dan menunjuknya dengan jarimu. Dan bulan itu bergerak di langit
ke arah mana pun kau menunjuknya.” Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Saat
itu, aku memang sedang bercakap dengannya, dan ia pun berbicara
kepadaku, mengalihkan perhatianku agar tak menangis. Aku dapat
mendengar suara sujudnya di bahwa ‘Arasy.”

Dalam Fath Al Bari diriwayatkan pula bahwa Nabi Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) berbicara ketika saat pertama ia dilahirkan.

Ibn Sab’ menyebutkan bahwa tempat tidur bayi Nabi Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam)
diayun-ayun oleh para Malaikat.

Ibn ‘Abbas (RA) mengatakan bahwa Halimah (RA) biasa meriwayatkan
bahwa ketika ia pertama kali menyapih Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), ia (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) berbicara,
dan berkata, “Allah (SWT) paling Agung dalam Keagungan-Nya, dan
segala puji hanya bagi Allah, dan Maha Suci Allah di permulaan dan di
akhir.” (Allahu Akbar Kabiiran, wal hamdu lillahi katheeran, wa
subhanallahi bukratan wa ashiilan.)
Saat ia telah tumbuh lebih besar,
ia biasa pergi keluar, dan ketika ia melihat anak-anak lain bermain,
ia akan menghindari mereka.

Ibn ‘Abbas (RA) berkata bahwa al Shayma’a (RA), saudara tiri
perempuan Nabi, menyaksikan bahwa sebagai seorang anak laki-laki,
beliau dinaungi suatu awan. Awan itu berhenti ketika beliau berhenti
dan bergerak ketika beliau bergerak. Beliau tumbuh tidak seperti anak
laki-laki biasa. Halimah berkata, “Ketika aku menyapihnya, kami
membawanya ke ibunya, sekalipun kami masih menginginkan agar ia
tinggal bersama kami lebih lama karena semua barakah yang telah kami
saksikan ada padanya. Kami meminta pada ibunya untuk mengizinkannya
tinggal lebih lama dengan kami sampai ia tumbuh lebih kuat, karena
kami khawatir atasnya tinggal di lingkungan yang tak sehat seperti
Makkah. Kami terus meminta sampai akhirnya ibunya menyetujui untuk
mengirimkannya kembali bersama kami.”

Allahumma salli afdalas salaati ‘ala habiibikal Mushtofa Sayyidina Muhammadin wa ‘ala aalihi wasahbihi wasallaam

Catatan Kaki:
[*] diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari versi terjemahan bahasa Inggris di sunnah.org

mualimdelft.nl

Dari Kitab Al-Mawahib Al-Qastallani [9]: Keajaiban di Masa Kanak-Kanak

Dari Kitab Al-Mawahib Al-Qastallani [9]: Keajaiban di Masa Kanak-Kanak

muslimdelft.nl

Pengantar

Kitab Mawahibul Laduniyyah bil Minah al-Muhammadaniyyah (Karunia Ilahiah dalam Bentuk Karunia Muhammadaniyyah) ditulis oleh Imam Ahmad Shihabuddin ibn Muhammad ibn Abu Bakr al-Qastallani (wafat 923H/1517 M), seorang ahli hadits yang mengarang syarah Sahih Bukhari (Irsyad as-Sari). Kitab Mawahib karangan beliau ini adalah kitab yang berisi biografi Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam.

===============================================

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Wassholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyaa-i wal Mursaliin Sayyidina
Muhammadin wa ‘ala aalihi wasahbihi ajma’in

dari
Mawahib al-Laduniyyah bi al-Minah al-Muhammadaniyyah[*]
(Karunia Ilahiah dalam Bentuk Karunia Muhammadaniyyah)
oleh Ahmad Shihab Al Deen Al Qastallani

Keajaiban di Masa Kanak-kanak

“Demi Allah, dua atau tiga bulan setelah kami kembali, ketika kami sedang mengurus beberapa hewan ternak kami di belakang rumah kami, saudara tiri laki-laki Nabi datang, berlari, dan berteriak, ‘Saudara laki-laki Quraisy-ku. Dua orang laki-laki mendatanginya memakai pakaian putih. Mereka membaringkannya dan membedah perutnya.’ Ayahnya dan diriku pun berlari mencarinya. Ia tengah berdiri dan warna kulitnya berubah. Ayahnya memeluknya dan bertaya, ‘Wahai anakku, apa yang telah terjadi padamu?’ Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) menjawab, ‘Dua orang laki-laki yang memakai kain putih mendatangiku. Mereka membaringkan tubuhku dan membedah perutku hingga terbuka. Mereka mengambil sesuatu darinya dan membuangnya, kemudian menutup perutku kembali seperti semula.’ Kami membawanya ke rumah dan ayahnya berkata, ‘Wahai Halimah, aku takut sesuatu telah terjadi pada anak kita yang satu ini. Mari kita kembalikan dia pada keluarganya sebelum keadaannya bertambah buruk.’ “

“Kami pun mengembalikannya kepada ibunya di Makkah. Ibunya berkata, ‘Apa yang membuatmu mengembalikannya padahal sebelumnya dirimu bersikeras untuk memeliharanya?’ Kami pun memberitahukan padanya bahwa kami khawatir bahwa sesuatu yang buruk mungkin terjadi padanya. Ibunya berkata lagi, “Tak mungkin seperti itu, jadi, katakan padaku yang sesungguhnya.” Sang ibu bersikeras hingga kami pun menceritakan padanya kejadian yang terjadi padanya (sall-Allahu ‘alayhi wasallam). Sang ibu (Aminah, peny.) pun bertanya, ‘Takutkah dirimu bahwa Setan telah berbuat sesuatu padanya? Tidak! Demi Allah, tak mungkin Setan dapat menyentuhnya. Anakku ini akan menjadi seseorang yang memiliki kedudukan luhur. Kalian boleh meninggalkannya sekarang.’”

Dalam hadits dari Syaddad ibn ‘Aws (RA) diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Aku pernah menjadi seorang anak susuan di Bani Sa’d ibn Bakr. Suatu hari saat diriku tengah berada di lembah bersama anak-anak laki-laki seusiaku, tiba-tiba muncul tiga orang. Mereka membawa sebuah bak mandi emas yang terisi penuh dengan es, kemudian mereka mengambilku dari teman-temanku, yang berlarian ke belakang ke suatu sudut. Salah satu dari ketiga orang itu membaringkan diriku dengan lembut ke atas tanah dan membelah perutku dari atas dadaku hinggu bagian tulang pinggangku. Saat itu aku mampu melihatnya dan tak merasakan sedikit pun rasa sakit. Ia mengambil keluar organ-organ dari dalam tubuhku dan mencucinya dengan seksama dengan es tadi. Kemudian mengembalikan organ-organ itu ke dalam tubuhku. Orang yang kedua bangkit dan menyuruh kawannya yang pertama tadi untuk menepi. Ia meletakkan tangannya ke atasku, memindahkan jantungku sementara aku melihatnya. Ia membelahnya, lalu mengambil keluar segumpal daging hitam, dan membuang daging hitam itu, kemudian menggerakkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, seakan-akan menerima sesuatu. Tiba-tiba, mewujud sebuah cincin di tangannya yang terbuat dari suatu cahaya menyilaukan. Ia mencap jantungku dengan cincin itu, hingga dengannya jantung itu berisi kemilauan cahaya. Itu adalah cahaya kenabian dan hikmah. Ia kemudian mengembalikan jantungku ke dalam dadaku dan aku merasakan kesejukan cincin itu dalam jantungku untuk jangka waktu yang lama. Orang yang ketiga menyuruh temannya untuk menepi. Ia menaruh tangannya ke atas bagian tubuhku yang terbelah dan seketika itu pula sembuh dengan izin Allah. Ia kemudian meraih tanganku dan dengan lembut membantuku bangkit sambil berkata pada orang yang pertama, ‘Timbanglah ia dengan sepuluh orang dari ummatnya.’ Aku pun melebihi mereka dalam timbangan. Kemudian ia berkata lagi, ‘Timbanglah ia dengan seratus orang dari ummatnya.’ Aku pun lebih berat dari itu. Kemudian ia berkata kembali, ‘Timbanglah ia dengan seribu orang dari ummatnya.’ Aku lebih berat dari mereka. Kemudian ia pun berkata, ‘Seandainya kalian menimbangnya dengan keseluruhan dari ummatnya pun, ia tetap akan lebih berat daripada mereka.’ Mereka semua memelukku, mencium dahiku dan ruang di antara kedua mataku sambil berkata, ‘Wahai, yang terkasih, seandainya saja kau mengetahui kebaikan apa yang tengah menanti dirimu, tentu kau akan berbahagia.’” Penimbangan di sini bermakna penimbangan moral/akhlaq. Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), dengan demikian, unggul dalam semua sifat dan keistimewaan.

Pencucian dada suci beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) terjadi pula di waktu lain ketika Jibril AS membawa kepada beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) wahyu di Gua Hira’ dan sekali lagi pada malam Mi’raj (Kenaikan ke Langit). Abu Nu’aim meriwayatkan dalam Al-Dala’il, pembelahan dada beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) terjadi pula saat beliau berumur dua puluh tahun. Hikmah dari pembelahan dada suci beliau di masa kanak-kanaknya serta pembuangan daging hitam, adalah untuk membersihkan beliau dari sifat-sifat kekanak-kanakan, sehingga beliau akan memiliki sifat-sifat seorang laki-laki dewasa. Pertumbuhan beliau pun, dengan demikian terjadi secara murni sempurna tanpa cacat. Beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dicap/ditandai dengan cap kenabian yang terletak di antara kedua bahunya yang memiliki wangi misk dan nampak bagai sebutir kecil telur burung ‘partridge’.

Ibn ‘Abbas (RA) dan yang lainnya meriwayatkan bahwa ketika Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) berumur enam tahun, ibundanya dan Ummu Aiman (RA) membawanya selama sebulan mengunjungi paman dari sisi ibunya dari Bani Adiy ibn An-Najjar di Dar al-Tabi’a di Yatsrib. Di suatu waktu kemudian hari, beliau mengingat-ingat peristiwa-peristiwa yang terjadi saat beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) tinggal di sana. Saat melihat ke suatu rumah tertentu, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Ini adalah (rumah) tempat ibuku dan diriku pernah tinggal. Aku belajar berenang di sumur milik Bani Adiy ibn Al Najjar. Sekelompok orang Yahudi biasa mengunjungi tempat ini untuk melihat diriku.” Ummu Aiman (RA) berkata, “Aku mendengar salah seorang dari Yahudi-Yahudi itu berkawa bahwa Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah Nabi dari ummat ini, dan bahwa tempat ini adalah tempat hijrah beliau. Aku mengerti semua yang mereka katakan.”

Beliau dan ibundanya kemudian bersiap untuk kembali ke Makkah, namun saat mereka tiba di suatu tempat bernama Al Abwa’, tidak jauh dari Yatsrib, ibundanya jatuh sakit keras. Al Zuhri meriwayatkan dari Asma’ binti Rahm, dari ibunya, “Aku berada bersama Aaminah, ibunda Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), saat ia terbaring sakit yang membawanya pada kematian. Pada saat itu, Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) masihlah seorang anak laki-laki berumur lima tahunan. Saat beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) duduk di sisi kepala ibundanya, sang ibu membacakan beberapa bait puisi, dan memandang wajah suci beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) sambil berkata, ‘Setiap yang hidup suatu saat pasti akan mati, segala sesuatu yang baru pastilah suatu saat akan menua, setiap keberlimpahan pastilah suatu saat akan berkurang. Aku kini tengah meregang maut, namun ingatanku selalu akan wujud, aku telah meninggalkan di belakangku kebaikan yang berlimpah, dan telah kulahirkan suatu Kesucian,’ kemudian sang ibu pun wafat. Saat itu, kami dapat mendengar Jinn menangisi kepergiannya.”

Telah diriwayatkan bahwa Aaminah bersaksi atas kenabian Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) setelah kematiannya. At-Tabarani meriwayatkan alam suatu rantai periwayatan dari A’isyah (RA) bahwa ketika Nabi (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) tiba di Al-Hajuun, beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) demikian sedih dan berduka. Beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) tinggal di situ selama yang Allah kehendaki bagi beliau untuk tinggal di situ. Saat beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) kembali, beliau demikian bahagia dan bersabda, “Aku memohon pada Tuhanku ‘Azza wa Jalla, untuk menghidupkan kembali ibundaku. Allah melakukannya dan menghidupkannya kembali.” Juga telah diriwayatkan oleh baik Al-Suhaili maupun Al-Khateen bahwa A’isyah (RA) berkata bahwa Allah membangkitkan kembali kedua orang tua Nabi Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan keduanya bersaksi atas kenabian Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam).

Al-Qurtubi, dalam Al Tadhkira, berkata, “Keistimewaan dan keluhuran Akhlaq Nabi Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) tak pernah berhenti muncul dalam keseluruhan hidup beliau. [Karena itu] Mengembalikan kembali kedua orang tuanya untuk hidup sehingga mereka dapat beriman pada beliau, bukanlah suatu hal yang tak mungkin. Tak satu pun dalam hukum Agama Islam maupun logika yang berlawanan dengan hal ini.” Disebutkan dalam Qur’an Suci bahwa seseorang yang terbunuh di kalangan Bani Isra’el dibangkitkan hidup kembali untuk menunjukkan siapa yang telah membunuhnya. Lebih-lebih, Sayyidina ‘Isa ‘alaihissalam biasa membangkitkan orang yang mati hidup kembali. Seperti itu pula, Allah Ta’ala mengembalikan beberapa orang mati untuk hidup lagi lewat tangan-tangan Nabi kita (sall-Allahu ‘alayhi wasallam). Mengapakah tak mungkin bagi kedua orang tuanya untuk bersaksi atas kenabian beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) setelah mereka dibangkitkan hidup kembali, padahal peristiwa ini hanyalah menambah keunggulan dan keluhuran beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam)?

Al-Imam Fakhruddin Al-Razi berkata bahwa seluruh ayah-ayah [kakek moyang] dari Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) adalah Muslim, yang dibuktikan dengan sabda Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), “Aku dipindahkan dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci ke rahim-rahim perempuan yang suci pula.” Dan karena Allah Ta’ala telah berfirman, “Sungguh, orang-orang Musyrik adalah najis,” kita melihat di sini bahwa tak seorang pun dari kakek moyang beliau yang kafir.

Al Hafiz Shams Al-Din Al-Dimashqi berkata tentang hal ini demikian indahnya saat ia menulis:

“Allah karuniakan atas Nabi karunia berlimpah

Dan lebih banyak lagi, dan baginya Ia Ta’ala paling berbaik hati

Ia kembalikan ibunda beliau untuk hidup, juga ayahandanya

Hingga mereka pun dapat beriman padanya.

Hal itu adalah karunia yang lembut

Maka berimanlah pada mu’jizat-mu’jizat ini, karena Ia Ta’ala mampu atasnya

Meski sang makhluk adalah lemah.”

Ummu Aiman (RA) adalah perawat Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) dan bibinya setelah wafatnya ibunda beliau. Beliau (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) biasa berkata tentangnya, “Ummu Aiman adalah ibundaku setelah ibundaku.” Saat Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) berumur delapan tahun, kakek dan penjaga beliau, Abdul Muttalib pun wafat. Umurnya saat itu seratus sepuluh tahun (dalam riwayat lain, ia berumur seratus empat puluh tahun). Saat itulah, atas permintaan Abd Al-Muttalib, paman Muhammad (SAW), Abu Talib menjadi penanggung jawab beliau, karena ia adalah saudara kandung laki-laki dari ayahanda Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam), ‘Abdullah.

Ibn Asakir meriwayatkan dari Jalhama ibn Urfuta bahwa Muhammad (sall-Allahu ‘alayhi wasallam) bersabda, “Aku datang ke Makkahsaat musim kering. Beberapa orang laki-laki dari suku Qurasiy mendatangi Abu Talib dan berkata, ‘Wahai, Abu Talib, lembah-lembah tengah kering dan keluarga-keluarga tengah menderita. Mari kita pergi dan berdoa memohon hujan.’ Abu Talib pun keluar, dan bersamanya seorang pemuda yang nampak bagai ‘Matahari-setelah-Awan-menghilang’. Ia (sang pemuda) dikelilingi oleh anak-anak laki-laki lainnya. Abu Talib pun membawanya ke Ka’bah dan membuatnya berdiri dengan punggungnya membelakangi Ka’bah. Saat itu, bahkan tak nampak secuilpun awan di langit. Namun, sesaat setelah sang pemuda itu mengangkat kedua tangannya, awan pun mulai berdatangan dari segenap penjuru, dan hujan pun mulai turun. Lembah pun bersemi dan baik di dalam Makkah maupun di padang pasir sekelilingnya menjadi subur. Tentang mu’jizat ini, Abu Talib menulis bait-bait berikut:

‘Untuk ia yang memiliki wajah benderang,
hujan dikirimkan demi kemuliaan akhlaqnya,
Ia tempat berlindung para yatim,
Dan penyokong para janda.’”

TAMMAT

Allahumma salli afdalas salaati ‘ala habiibikal Mushtofa Sayyidina Muhammadin wa ‘ala aalihi wasahbihi wasallaam

Catatan Kaki:
[*] diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari versi terjemahan bahasa Inggris di sunnah.org

Kamis, 29 Januari 2009

Mencintai Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam

oleh Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani*

Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam bersabda: “la yu’minu ahadakum hatta akuunu ahabba ilaykum min waalidihi wa aalihi wa an-naasi ajma’een.” Yang berarti, “Kalian tidak akan mencapai iman sejati sampai kalian mencintaiku; kalian harus mencintaiku lebih dari kalian mencintai orang tua kalian, diri kalian sendiri dan anak-anak kalian serta seluruh manusia.”

dalam sebuah suhbah (ceramah/diskusi keagamaan) di Islamic Educational Center, Fremont, California, 27 Januari 2003.

[dimulai dengan pendahuluan oleh Professor Muhammad Ahmad]

Kemudian Mawlana Syaikh Hisyam:

Saya datang sebagai pendengar.

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahim

Nawaytul arba’iin,
Nawaytul I’tikaaf,
Nawaytul khalwa,
Nawaytul ‘uzla,
Nawaytus suluuk,
Nawaytul riyadhah lillahi ta’ala al-`adhiim fii hadzal masjid

Suatu kehormatan bagi saya untuk datang dan mendengar nasihat tadi, bukan suatu kuliah, tapi suatu nasihat dari Professor tentang cinta pada Sayyidina Muhammad sall-Allahu `alaihi wasallam. Saya benar-benar datang hanya untuk mendengar. Saya tidak merasa bahwa saya perlu untuk menambahkan apa pun, karena ketika kecintaan pada Nabi sall-Allahu `alaihiwasaallam muncul dan datang, kita pasti akan merasa terbakar dalam cinta itu. Jadi, saya tidak tahu lagi apa yang mesti dikatakan, dan jika saya berbicara maka akan memakan banyak waktu. Berapa menit kalian ingin saya untuk bicara?

[HADIRIN: 60 menit!, sepanjang malam!…beberapa orang telah datang dari Sacramento!]

Ok, hanya untuk 15, 20 menit.

“Ya Sayyidi ya Rasulallah.” Baru saja saya mendengar apa yang ada dalam nasihat yang telah diberikan oleh Professor. Oleh Prof. Dr. Muhammad Qadri tentang perlunya mencintai Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam. Tak perlu untuk mengucapkan Professor, atau doktor, Muhammad Ahmad adalah cukup untuk suatu kehormatan. Alhamdulillah.

Adalah suatu fakhr (kesombongan) untuk memberi nama setelah Sayyidina Muhammad sall-Allahu `alaihi wasallam. Kita bukan Wahabi, yang bangga dengan kertas yang kita peroleh dari universitas. Siapa yang peduli akan itu?

Saya mendengar bahwa saat permulaan, saat majelis ini dimulai, hanya ada dua orang yang datang dan mendengar. Setelah itu, secara perlahan jumlahnya bertambah dan kita sekarang melihat ratusan orang di sini. Hal ini menunjukkan bahwa kalian berada di jalan yang lurus. Saya berada di Houston kemarin dan saya memberikan nasihat di Masjid Ghawth A’zham. Dan masya Allah, begitu banyak orang dari Tariqat Al-Qadiriyyah mengundang saya ke acara besar itu dan kalian pun bisa merasakan perasaan yang sama akan kecintaan kepada Nabi sall-Allahu `alaihi wasallam.

Kini, untuk mencintai Nabi sall-Allahu `alaihi wasallam adalah sesuatu yang harus kita rasakan dalam hati kita. Jika kita tidak merasakannya dan tidak mengetahuinya dan tidak mempelajarinya dan tidak mengamalkannya, maka cinta itu hanyalah ada di lidah. Itulah kenapa Syaikh Muhammad Ahmad Qadiri, menyebutkan suatu hadits Nabi sall-Allahu `alaihi wasallam, “la yu’minu ahadakum hatta akuunu ahabba ilaykum min waalidihi wa aalihi wa an-naasi ajma’een.” Yang berarti, “Kalian tidak akan mencapai iman sejati sampai kalian mencintaiku; kalian harus mencintaiku lebih dari kalian mencintai orang tua kalian, diri kalian sendiri dan anak-anak kalian serta seluruh manusia.”

Jika kita melihat pada diri kita hari ini, jika anak kita sakit dan kalian harus membawanya ke rumah sakit, kehidupan kalian akan terganggu. Kalian tak dapat tidur satu jam pun tanpa adanya perasaan, “Anakku” atau “Putriku.” Kalian terus mengatakan pada diri kalian, “Putraku,” atau “Putriku”. Kalian memiliki perasaan ini dalam menjaga putra atau putri kalian. Hal ini adalah timbangan atau ukuran sederhana yang dapat kita pakai untuk melihat diri kita sendiri. Sudahkah kecintaan pada Nabi seperti kecintaan dalam hati kita pada anak-anak kita atau belum? Jika kecintaan seperti itu belum ada, dan saya yakin belum ada, maka kita pun harus meningkatkannya.

Itulah mengapa Syaikh Muhammad Ahmad juga menyebutkan ayat, “Qul in kuntum tuhibbun Allah fat-tabi’uunii yuhbibkumullah wa yaghfir lakum dzunuubakum, wallohu Ghafuurur Rahiim“Katakanlah:’Jika kamu (benar-benar)mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’”[QS. 3:31]

Bukanlah Nabi sall-Allahu `alaihi wasallam yang mengatakannya – namun adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berfirman, “Ya Muhammad, katakan pada mereka, `Jika kau mencintai Allah, maka ikutilah aku, Allah akan mencintaimu.’” Untuk siapakah ayat itu? Untuk setiap orang, untuk Sahabat. Saya mencintai Nabi, dan saya harap setiap orang pun mencintai Nabi. Dan para Sahabat mencintai Nabi sall-Allahu `alaihi wasallam. Maka bagaimanakah saya akan mencintai Nabi jika saya perlu untuk melihat beliau dan mengikuti beliau? Bagaimanakah saya mengikuti beliau jika saya tidak melihat jejak langkah beliau?

Maka, para Sahabat melihat jejak langkah Nabi dan beliau menunjukkan pada mereka akan hakikat bagaimana mengikuti (ittiba’, penerj.).
Beliau membawa mereka dengan tangan beliau dan mereka pun bergerak,
beliau membimbing mereka.

Namun, ayat Qur’an Suci tersebut adalah bagi seluruh Ummah [tidak hanya untuk para Sahabat, penerj.], dari awal hingga akhir. Ada suatu makna tersembunyi di sini. Nabi sall-Allahu ‘alaihi wasallam selalu bersama Sahabat untuk membimbing mereka. Itu berarti kehadiran beliau (sall-Allahu `alaihi wasallam) mestilah wujud/ada di semua zaman bagi semua orang, bagi semua manusia untuk diikuti.

“Wa’lamuu anna fiikum Rasulallah.”“Dan ketahuilah bahwa Nabi adalah berada dalam dirimu.” [QS. 49:7]. Allah tidak mengatakan bahwa beliau “baynakum“, “di antara kamu“, tapi Ia Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Fiikum”“di dalam dirimu.” Quran suci sangatlah halus dan teliti dalam setiap huruf dan kalimatnya. Jika Nabi sall-Allahu `alaihi wasallam berada dalam diri kita, maka kemudian Allah mengatakan pada kita di sini, “lalu di manakah dia sekarang?”

Saya akan memberikan suatu contoh berikut ini [sambil menyentuh mikrofon]. Apakah kalian mendengarkannya (suara mikrofon)? [ya]. Mengapa kalian mendengarnya?

Itulah suara. Sentuhan tadi menciptakan suatu suara yang memiliki suatu panjang gelombang tertentu dan gelombang ini bergerak ke seluruh ruang, ke seluruh alam semesta dan tak pernah lenyap. Mereka yang tahu akan fisika, engineering, tahu tentang ini. Gelombang tadi bergerak melalui ruang, sehingga ketika saya menyentuh (mikrofon), gelombang tadi bergerak melalui ruang – jika kalian memiliki receiver (penerima) kalian pun dapat mendengarnya dan jika kalian tidak memilikinya, kalian tak akan dapat mendengarnya.

Kita sedang mendengarkan dari era milliaran tahun yang lalu, suara-suara yang datang dari alam semesta, karena kita memiliki receiver-receiver yang besar (teleskop radio, penerj.). Kita mampu mendengarkan sesuatu, tetapi kita tetap tak mampu mendengar yang lain, ini tak mungkin. Setiap suara mestilah terdengar jika kalian memiliki peralatan yang tepat, karena gelombang-gelombang itu bergerak di segenap alam ini.

Saat Sayyidina Muhammad sall-Allahu `alaihi wasalam membaca Al Quran suci, gelombang itu terus hidup dan ia tidak lenyap. Kalian bisa pula memahaminya dari titik pandang Fisika. Maka, jika suara itu di sana, mengapa kita tak mampu mendengarnya? Karena ada yang salah dengan peralatan kita.

[subhanAllah, hayyak Allah wa jamaalakAllah wa.`afakalla]

Ada sesuatu yang salah. Bagaimana pula dengan hadits, “ma zaala `abdii yataqarraba ilayya bin-nawaafil hatta uhibbah. Fa idza ahbabtahu kuntu sam’ahul ladzii yasma’u bihi wa basharahul ladzii yubsiru bihi, wa yadahul ladzii yubtishu bihi wa lisanahul ladzii yatakallama bih.” “Hamba-Ku tidaklah berhenti mendekati-Ku melalui ibadah sunnah (nawafil) hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, dan tangannya yang dengannya ia bertindak dan lisannya yang dengannya ia berbicara.” [1]

Seorang hamba mendekat dengan ibadah sunnah sampai Aku mencintainya, sebagaimana Syaikh Muhammad Ahmad Mahmud Qadiri, [menambahkan bahwa]berkata bahwa cinta pada Sayyidina Muhammad adalah penting. Para Sahabat, karena kecintaan mereka kepada Nabi sall-Allahu `alaihi wasallam itu, mereka benar-benar mendengar pada Nabi Sall-Allahu `alaihi wasallam, dan berkata, “Ya Rasulallah, Wahai Rasulallah, kami terima apa pun yang kau ucapkan.” Para Munafiqiin mencoba untuk membuat keragu-raguan. Tapi, para sahabat berkata, “na’am Sadaqta Ya Rasulallah!” (bermakna, “Benar, engkau benar, Wahai Rasulallah”) pada malam Mi’raj.

Tapi, cinta itulah yang penting. Cinta itu datang bukan melalui kewajiban, tapi Ia berfirman, “maa zaala `abdii yataqarraba ilayya bin nawaafil hatta uhibbah.” – melalui ibadah dan amalan sunnah.

Apakah kewajiban itu dalam Quran, datang dari langit atau Nabi melakukannya sendiri karena kecintaan? Karena kecintaanlah, Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam melakukannya. Kewajiban (Faraidh), adalah sesuatu yang harus kalian lakukan, kalian dipaksa, jika tidak kalian masuk ke jahannam. Itu adalah suatu kewajiban, kalian tak dapat mencapai cinta Allah dengannya. Adapun Ibadah Sunnah, ada suatu jalan untuk menghindarinya, karena sekalipun kalian tidak melakukannya kalian akan tetap masuk surga. Tapi, kalian tidak akan berada dalam situasi seperti yang disebut dalam hadits tadi. Itu berarti jika seorang hamba mencintai-Ku melalui Muhammad, dengan sarana Nawafil, `ibadah sunnah, maka Aku akan mencintainya, ini adalah suatu hubungan timbal balik. Ini haruslah dimulai dari diri kalian lebih dulu, karena Allah memang sudah mencintai hamba-Nya. Tapi, diri kalianlah yang harus memasukkan steker, kawat kabel kalian dan membuat hubungan itu dari sisi kalian.

Lalu apa yang terjadi? Hadist itu berlanjut, “kuntu sam’ahul ladzii yasma’u bih” Itu bermakna, “Aku akan memberinya penerima (receiver) khusus untuk mendengar, hingga ia mampu mendengar apa yang hanya bisa didengar wali.” “Aku akan memberinya apa yang tak dapat didengar orang biasa” Apa yang tak dapat didengar oleh orang-orang? Kau tak dapat mendengar, ia tak dapat mendengar, kalian akan mendengar suara yang orang tak dapat mendengarnya karena mereka tak memiliki pembukaan’ itu dalam telinga-telinga mereka. Ia akan memberi kalian apa-apa yang berasal dari sifat as-Sami’, sebagaimana Sariya radhiy-Allahu `anhu mendengarkan suara Sayyidina `Umar radhiy-Allahu `anhu dari Syam [2]. “Wahai Sariya! Jaga gunung itu,” dari Madinah ke Syam.

Sariya mampu mendengarnya. Sayyidina `Umar radhiyallahu `anhu mampu mendengar dan melihat. Jadi, Sariya memiliki audio voice saja. Sedangkan Sayyidina `Umar radhiyallahu `anhu memiliki baik video maupun audio. Itulah teknologi yang ada sejak 1400 tahun lampau, sejak zaman Nabi sall-Allahu `alaihi wasallam. Kemudian haditsnya berlanjut, “Aku akan berikan padanya penglihatan yang Ia dapat gunakan untuk melihat dengannya, Aku akan menjadi matanya yang dengannya ia dapat melihat.” Pada saat itulah, kalian akan memiliki audio, video, dan TV. Saat itulah, kemudian, kalian akan mampu melihat Nabi sall-Allahu `alaihi wasallam – bagaimana beliau bergerak, bagaimana beliau berbicara, bagaimana beliau bertindak, maka kalian pun bisa mengikutinya. Jika kalian tak mampu melihat hal-hal tersebut, maka ikutilah mereka yang mampu melihatnya. Tak setiap orang mampu melakukannya, hanya sedikit yang mampu melakukannya, hanya awliya’ (kekasih Allah) yang mampu melakukannya, seperti Sayyidina `Abdul Qadir Al-Jailani.

Bahkan kalian menyebut Ibn Taymiyya, saya tidak suka untuk menyebutnya tapi untuk menunjukkan pada Wahabi/Salafi bahwa guru mereka pun adalah seorang pelayan di pintu Sayyidina `Abdul Qadir Al-Jailani.

Ibn Taymiyya memuji Sayyidna `Abdul Qadir Al-Jailani dalam bukunya Fatawa ibn Taymiyya.

Saat itulah kalian memiliki audio dan video, dan itulah yang memberikan pada kita makna bahwa Nabi sall-Allahu `alaihi wasallam selalu hadir, melihat diri kalian dan melihat apa yang kalian lakukan. Dan jika kalian cerdas, kalian akan mampu melihatnya. Dan jika kalian tidak mampu, maka ikutilah mereka yang mampu. Itulah perintah yang ada dalam suatu hadits, “In kuntum tsalatsah, fa-amiru ahadakum.”“Jika kalian bertiga, maka jadikan seseorang sebagai pemimpin kalian.”

Amir itu tidak boleh buta, dia tidak boleh seseorang yang bukan intelektual. Dia haruslah seseorang yang dapat melihat jejak langkah Nabi Sall-Allahu `alaihi wasallam.

Saya mendengar cerita ini dari Syaikh saya dan ayah beliau dan kakek beliau adalah berasal dari tariqat Qadiri. Beliau melakukan khalwat penuh di maqam Sayyidina `Abdul Qadir Al-Jailani selama setahun penuh.

Seorang wanita membawa anak laki-lakinya kepada Sayyidina `Abdul Qadir Al-Jailani dan berkata, “Ya Sayyidii, aku tahu bahwa Anda adalah Ghawts, dan aku tahu demi kehormatan dari Nabi, engkau memberi.” Wanita itu adalah seorang wanita yang miskin dan ia selalu menghadiri suhbat (asosiasi), dan ia akan melihat seluruh murid, pengikut, menghadiri suhbat (nasihat) dan dzikir. Dan di hadapan setiap orang ada seekor ayam dan mereka makan.

Wanita itu berkata pada dirinya sendiri, “Alhamdulillah, aku miskin dan Sayyidina `Abdul Qadir kaya baik di dunia maupun di akhira. Aku akan berikan anakku untuk duduk di sana. Setidaknya ia akan makan di pagi dan malam hari.”

Ia berkata, “Aku ingin anakku menjadi muridmu.”

Beliau menerimanya. Anak itu adalah seorang anak yang berbadan cukup gemuk. Beliau menyuruh seorang murid, Muhamad Ahmad, “Kirimkan dia ke ruang bawah tanah dan berikan padanya awrad untuk khalwat. Dan berikan baginya sekerat roti dan minyak zaitun untuk makan setiap hari.”

Wanita tadi datang setelah satu bulan dan berpikir bahwa anak laki-lakinya pasti makan ayam. Kemudian ia melihat para murid duduk dan makan dengan adab, ayam.

Wanita itu bertanya pada Syaikh tentang anaknya. Beliau menjawab, “Ia sedang di ruang bawah tanah memakan makanan yang istimewa.” Wanita itu senang, karena ia berpikir bahwa kalau para murid saja sedang makan ayam, pastilah anaknya sedang makan sapi.

Dia turun ke bawah dan melihat anak laki-lakinya – dia tampak sangat kurus. Tapi, dia sedang duduk, membaca doa, berdzikir, dan cahaya tengah memancar dari wajahnya.

Wanita itu mendatanginya dan berkata, “Apa ini?” Ia menjawab, “Itulah yang aku makan, sekerat roti.” Wanita itu mendatangi Sayyidina `Abdul Qadir Al-Jailanai, “Aku membawa anakku untuk bersamamu.” Saat wanita itu berbicara sang Syaikh memerintahkan para muridnya, “Makan.” Setiap murid memakan ayam di hadapannya masing- masing, bukan potongan-potongan, tapi seluruh ayam, beserta tulang-tulangnya. Kemudian beliau berkata pada wanita itu, “Jika kau ingin anakmu mencapai suatu level untuk dapat memakan ayam beserta tulang-tulangnya, maka ia harus lebih dahulu menjalani tarbiyya
pelatihan.” Tarbiyya itu adalah untuk membina dan melatih ego, yang merupakan hal paling sulit. Itulah yang diperlukan.

Saya datang ke sini hanya untuk mendengarkan kalian.

Akhir dari suhbat Mawlana Syaikh Hisyam Kabbani.

Fatihah.

Allahumma salli ‘ala Sayyidina Muhammadin nabi al-ummi wa ‘ala Alihi wa Sahbihi wa sallim.

Catatan Kaki:
[1] Sebuah hadits sahih yang diriwayatkan banyak Imam Hadits dalam kitab-kitab mereka
[2] Syam adalah daerah di sekitar Syria dan Palestina, berpusat di Damascus.

* Syekh Muhammad Hisyâm Kabbânî ialah penulis dan ulama yang terkemuka di dunia. Ia telah mengabdikan hidupnya untuk mengampanyekan prinsip-prinsip Islam seperti perdamaian, toleransi, dan penentangan ektremisme dalam segala bentuknya. Sang syekh dibesarkan dalam keluarga ulama yang terhormat. Di antara mereka ada yang pernah menjadi Ketua Persatuan Ulama Lebanon dan kini menjabat sebagai Mufti Agung Lebanon—yakni pemangku otoritas agama tertinggi negara itu.

Di Amerika, Syekh Kabbânî menjabat sebagai Ketua Dewan Tinggi Islam Amerika; pendiri Tarekat Naqsyabandi Amerika; Ketua Yayasan Al-Sunnah Amerika; Ketua Organisasi Wanita Islam Kamilat; dan pendiri serta Ketua The Muslim Magazine.

Syekh Kabbânî sangat piawai baik sebagai saintis Barat maupun pakar Islam klasik. Ia memperoleh gelar sarjana muda pada bidang kimia (American University in Beirut), dan mempelajari ilmu kedokteran (Catholic University of Leuven, Belgia). Di samping itu, ia juga menyandang gelar sarjana pada bidang hukum Islam (Universitas Al-Azhar cabang Damaskus, Syria), dan, atas izin dari Syekh ‘Abd Allâh Daghestani, mengajar, mengarahkan, dan membimbing para murid yang belajar spiritualitas Islam dari Syekh Muhammad Nâzim ‘Adil al-Qubrusî al-Haqqânî al-Naqsyabandî, pemimpin besar tarekat Naqsyabandî-Haqqânî.

Buku-buku yang pernah beliau tulis adalah: Remembrance of God Liturgy of the Sufi Naqshbandi Masters (1994); The Naqshbandi Sufi Way (1995); Angels Unveiled (1996); Encyclopedia of Islamic Doctrine (7 jilid, 1998); Encyclopedia of Muhammad’s Women Companions and the Traditions They Related (1998, bersama Dr. Laleh Bakhtiar); dan Classical Islam and the Naqshbandi Sufi Order (akan diterbitkan bulan November 2003).

Dalam usaha jangka panjangnya untuk memperkenalkan pemahaman yang lebih baik tentang Islam klasik, Syekh Kabbânî telah menyelenggarakan dua konferensi internasional di Amerika, dengan menghadirkan para pakar dari berbagai dunia muslim. Sebagai pembawa suara Islam tradisional, komentarnya dikutip oleh para wartawan, akademisi, maupun pejabat pemerintahan.

[]

Detik-Detik Maulid Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam

Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du..

Oleh : M. Luthfi Thomafi*

Diriwayatkan oleh Umar bin Khatthab r.a., beliau berkata : saya bersama Rasulullah s.a.w sedang duduk-duduk. Rasul s.a.w. bertanya kepada para sahabat, “Katakan kepadaku, siapakah makhluk Allah yang paling besar imannya?” Para sahabat menjawab; ‘Para malaikat, wahai Rasul’. Nabi s.a.w bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”. Sahabat menjawab, “Para Nabi yang diberi kemuliaan oleh Allah s.w.t, wahai Rasul”. Nabi s.a.w. bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”. Sahabat menjawab lagi, “Para syuhada yang ikut bersyahid bersama para Nabi, wahai Rasul”. Nabi s.a.w. bersabda, “Tentu mereka demikian. Dan mereka berhak seperti itu. Tidak ada yang bisa menghalangi itu, karena Allah s.w.t telah memberikan mereka tempat”.


“Lalu siapa, wahai Rasul?”, tanya para sahabat.

Lalu Nabi s.a.w. bersabda, “Kaum yang hidup sesudahku. Mereka beriman kepadaku, dan mereka tidak pernah melihatku, mereka membenarkanku, dan mereka tidak pernah bertemu dengan aku. Mereka menemukan kertas yang menggantung, lalu mereka mengamalkan apa yang ada pada kertas itu. Maka, mereka-mereka itulah yang orang-orang yang paling utama di antara orang-orang yang beriman”. [Musnad Abî Ya’lâ, hadits nomor 160].

Waktu yang ditunggu-tunggu itu belum datang juga, namun beberapa orang masih terus mencari. Mereka menelusuri ujung-ujung kota Mekkah. Dari satu tempat ke tempat lain, orang-orang yang merindukan kehadiran seorang pembebas itu tak lupa bertanya kepada orang-orang yang mereka jumpai di setiap tempat. Mereka bertanya begini kepada setiap orang, “Siapakah di antara kalian yang memiliki bayi laki-laki?”. Namun tak seorang pun mengiyakan pertanyaannya. Orang awam tentu tidak memahami maksud pertanyaan itu, namun orang-orang itu tidak juga berhenti untuk mencari dan menanyakan dimana gerangan bayi laki-laki yang dilahirkan. Semuanya ini dilakukan untuk membuktikan kepercayaan yang selama ini diyakininya. Bahwa dunia yang telah rusak sedang menanti kedatangannya.

Hingga pada suatu pagi.

Sebagaimana aktifitas yang telah diberlakukan semenjak zaman nabi Ibrahim a.s, setiap bayi yang lahir pada saat itu segera di-thawaf-kan. Ini tidak lain untuk mendapatkan hidup yang penuh barokah, yakni bertambahnya kebaikan lahir dan batin, serta mengharapkan kemuliaan dan petunjuk dari Allah s.w.t. Tidak terkecuali bagi seorang Sayyid Abdul Muththalib, yang terkenal masih bersih dalam urusan teologi. Begitu mengetahui cucu laki-lakinya lahir, maka segeralah beliau membawa bayi itu menuju Ka’bah, lalu Thawaf, membawa bayi itu mengelilingi Ka’bah tujuh kali sambil berdoa kepada Allah s.w.t.

***

Tepat sesaat setelah Sayyid Muththalib memasuki rumah setelah men-thawaf-kan cucunya, lewatlah seseorang yang selama beberapa hari ini mencari kelahiran seorang bayi laki-laki. Saat itu, orang yang sudah cukup tua tersebut masih menanyai kepada setiap orang yang dia temui, “Siapakah di antara kalian yang memiliki bayi laki-laki?”. Pada saat itulah sayyid Muththalib menyadari ada seorang tua yang mencari bayi laki-laki.

Dipanggilnya orang tua itu, lalu beliau berkata kepadanya, “Saya punya bayi laki-laki, tapi, tolong katakan, apa kepentingan Anda mencari bayi laki-laki?”.

“Saya ingin melihat bayi laki-laki yang baru lahir. Itu saja”, jawab orang tua tersebut yang sekonyong-konyong muncul semangat baru dalam dirinya. Tanpa memberikan kesulitan apapun, Sayyid Muththalib mempersilahkan orang tua itu masuk ke rumahnya untuk melihat bayi yang dimaksud.

Apa yang terjadi saat orang tua itu melihat bayi yang ditanyakannya, adalah hal yang tidak pernah dibayangkan oleh sayyid Muththalib. Sang Sayyid memang tidak pernah berpikir apa pun. Sebagai layaknya seorang kakek yang berbahagia mempunyai cucu, beliau cukup bersyukur sang cucu dilahirkan dalam keadaan sehat wal-afiat. Namun, bagi orang tua yang sedang mencari sesuatu itu tidak demikian. Begitu melihat bayi dan menemukan ciri-ciri sebagaimana disebutkan dalam al-Kitab yang dia baca, serta informasi dari orang-orang terdahulu, orang tua itu berseru, “Benar, benar sekali ciri-cirinya, inilah bayi yang akan menjadi Nabi akhir zaman kelak…”. Dalam kebengongan Sayyid Muththalib, pingsanlah orang tua yang selama ini mencari-cari bayi laki-laki tersebut, lalu wafat pada saat itu juga.

***

Orang-orang yang mencari bayi laki-laki saat itu, termasuk seorang tua yang akhirnya mendapatkannya dan pingsan, adalah para agamawan yang meyakini akan kehadiran seorang Nabi akhir zaman. Mereka sangat teguh memegang berita akan kemunculan nabi akhir zaman ini. Semakin kuat keyakinan mereka, semakin mereka meninggalkan urusan-urusan dunianya guna menanti atau mencari nabi akhir zaman itu. Penantian nabi akhir zaman itu, selain berkat informasi dari kitab-kitab mereka, saat itu, mereka juga sangat merasakan bahwa keadaan membutuhkan kehadiran sang Nabi.

Sedang sang bayi yang ditunggu adalah bayi Muhammad Shalla-llâhu ‘alayhi wa sallama, bayi yang kelak menjadi nabi terakhir.

Demikianlah, akhir dari kisah pencarian para agamawan pada zaman pra Nabi Muhammad saw. Pencarian atas apa yang diisyaratkan dalam kitab-kitab mereka, bahwa akan diutusnya nabi akhir zaman untuk meluruskan kembali akidah-akidah yang telah tidak berdasar.

Dari kisah ini, kita mengetahui betapa pada waktu itu masyarakat mengelu-elukan kehadiran Nabi Muhammad saw, ‘Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin’. (QS. 9:128). Hampir setiap kaum tahu bahwa ketika situasi sudah sangat rusak, nabi akhir zaman akan muncul. Namun, dari mana dia lahir, hal itu yang tidak pernah diketahui secara pasti. Yang diketahui pada saat itu adalah ciri-ciri tempat, posisi bintang, ciri-ciri bayi, dan lain sebagainya.

Dalam kitab-kitab lama, ciri-ciri tersebut ditulis secara jelas. Hingga masyarakat yang membaca kitab-kitab itu pun akan mengetahui pula. Tidak sekedar mengetahui, tapi mereka juga berkeinginan untuk dekat dengan nabi akhir zaman tersebut. Salah satu yang diimpikan oleh berbagai kaum saat itu, adalah harapan agar nabi akhir zaman itu muncul dari keturunannya. Hal demikian tentu sangat manusiawi. Maka, untuk mewujudkan impian itu, banyak kaum yang melakukan migrasi dari kampung halamannya, untuk mencari tempat yang disebutkan ciri-cirinya oleh kitab-kitab lama.

Ada beberapa tempat yang saat itu menjadi pilihan para pencari nabi akhir zaman. Tempat-tempat itu antara lain adalah Mekkah, Madinah (Yathrib) serta Yaman. Salah satu dari tiga tempat itu diyakini menjadi tempat nabi akhir zaman dilahirkan. Banyak juga para agamawan yang menduga nabi akhir zaman masih akan muncul dari kawasan Jerusalem atau Damaskus.

***

Untuk kasus Mekkah, orang-orang atau kaum non Quraisy yang minoritas adalah kaum pendatang yang sengaja tinggal di Mekkah untuk menanti kedatangan nabi akhir zaman. Sedangkan kasus migrasi di Madinah, orang-orang Yahudi-lah yang banyak menempati kota tersebut waktu itu. Suku bangsa seperti Bani Nadhir, Quraizah, Qainuqa’ dan suku-suku kecil lainnya, yang sering muamalahnya menghiasi sejarah Islam dan târîkh Nabi saw, adalah keluarga-keluarga Yahudi yang bermigrasi dari berbagai kawasan, baik dari Jerusalem, Yaman, maupun yang lainnya, ke daerah Madinah untuk menanti nabi akhir zaman. Migrasi-migrasi itu terjadi dengan harapan nabi akhir zaman muncul dari keturunan mereka, selain, tentunya, mengharapkan barokah tadi. Migrasi ke Madinah ini dilakukan sudah cukup lama, setidaknya mereka telah mendiami Madinah sekitar 100 tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad saw.

Banyak sekali suku-bangsa yang percaya akan datangnya nabi akhir zaman. Mulai dari Ethiopia (Al-Habsyi) hingga Damaskus (Dimasyqa), serta dari Yaman hingga negeri-negeri Rusia. Semuanya menanti kedatangannya.

***

Sang nabi akhir zaman itu telah lahir. Namun, sangat disayangkan, Allah swt telah dengan cepat memanggil para agamawan yang menjadi “saksi penting” kebenaran Muhammad s.a.w ke sisi-Nya. Seolah-olah sebuah drama yang penuh liku, sedikit demi sedikit, para agamawan yang diharapkan kesaksiannya telah wafat. Tidak bisa dibayangkan, andaikata para agamawan ini, dan segenap murid serta keturunannya, masih hidup serta senantiasa mengikuti perkembangan bayi Nabi Muhammad saw hingga pada usia-usia dewasa dan kenabian, tentu sejarah akan berbicara lain.

Memang, kasus-kasus wafatnya para agamawan setelah melihat tanda-tanda adanya kenabian, seperti yang terjadi pada orang tua itu, bukanlah yang pertama kali. Dalam rekaman sejarah, banyak sekali informasi yang membahasnya, bahkan sejak zaman sayyid Abdullah—ayahanda Nabi Muhammad saw—belum menikah dengan sayyidah Aminah, dan juga pada masa-masa dalam kandungan sayyidah Aminah. Hingga pada suatu waktu di kemudian hari, tepatnya 40 tahun setelah kelahiran nabi, sejarah juga kehilangan seorang agamawan-monotheis yang informasi spiritualnya sangat berharga bagi keberlangsungan keyakinan terhadap adanya nabi akhir zaman.

Dalam hadits yang diriwayatkan sayyidah ‘Aisyah ra disebutkan bahwa setelah mendapatkan wahyu pertama, sayyidah Khadîjah ra—bersama nabi—mendatangi pamannya, Waraqah bin Naufal, untuk meminta advis atas apa yang baru saja terjadi pada nabi. Waraqah bin Naufal adalah seorang agamawan ahli kitab suci.

Setelah Nabi Muhammad saw menceritakan semua yang terjadi kepada beliau—di gua hira itu—langsung saja Waraqah terperanjat dan menjawabnya,”Itu adalah Nâmûs yang diturunkan Allah s.w.t. kepada Musa a.s. Ya Tuhan, semoga saja aku masih hidup ketika orang-orang mengusir nabi ini…”.

Waraqah tahu, bahwa yang menemui Nabi Muhammad saw adalah Namûs, alias malaikat Jibril as, yang pernah menemui Nabi Musa as dulu. Pengakuan Waraqah ini mirip dengan peristiwa yang terjadi beberapa tahun kemudian, saat Nabi Muhammad saw membacakan ayat al-Qur’an di hadapan jin, maka jin itu berkomentar, “Mereka berkata, ’Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (yaitu al-Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. [QS. 46:30].

Dan Waraqah tahu, bahwa yang ada di depannya saat itu adalah seorang nabi, yang di kemudian hari akan diusir oleh kaumnya sendiri dari tanah kelahirannya. Tapi, harapan Waraqah untuk menjadi saksi perilaku orang-orang terhadap Nabi Muhammad saw tidak kesampaian. Beberapa hari setelah itu, beliau wafat. Untuk ke sekian kalinya, Allah swt memanggil hamba-Nya yang bisa menjadi “saksi spritual” atas kenabian Muhammad saw. Tapi, itulah, Allah swt tentu memiliki kehendak-kehendak tersendiri yang tidak pernah kita ketahui.

***

Dengan wafatnya beberapa agamawan yang menjadi saksi kebenaran kelahiran sang nabi, terputus pula informasi-informasi ini. Situasi informasi tentang nabi akhir zaman kembali ke titik nol. Namun inti berita yang ada dalam kitab-kitab tentang akan diutusnya nabi akhir zaman saat itu masih ada. Karena realitas teologis memang membutuhkannya. Hanya berita ini yang telah diketahui oleh para agamawan di berbagai tempat, sebagaimana berita akan kelahirannya. Dan mereka hanya bisa memegang keyakinannya, tanpa ada kemampuan untuk mencarinya, sebagaimana pendahulu-pendahulu mereka menemukan waktu saat-saat dilahirkannya Nabi Muhammad s.a.w. Nampaknya, agamawan yang baru membaca kitab-kitab suci itu lebih percaya bahwa nabi akhir zaman sudah benar-benar lahir di dunia ini.

Memang banyak ditemukan beberapa anak laki-laki yang memiliki nama Ahmad atau Muhammad pada masa pra kenabian. Menamakan Ahmad atau Muhammad karena orang tuanya sangat berharap anaknya menjadi nabi. Tetapi, para agamawan tentu sudah memiliki wasilah atau cara tersendiri untuk menentukan “validitas stempel” yang ada pada seorang nabi, apa lagi nabi akhir zaman. Maka, mereka tinggal menanti detik-detik kedatangan risalah dan deklarasi kenabian sang nabi akhir zaman itu.

***

Secara umum, bisa dikatakan bahwa kebanyakan para agamawan saat itu sudah mengetahui bahwa nabi akhir zaman akan diturunkan dari keluarga tertentu, dan di tempat tertentu. Ada saja yang mengetahui, atau setidaknya meyakini, bahwa nabi akhir zaman itu muncul dari keluarga Bani Hasyim, di daerah Mekkah, dan lain sebagainya. Ini misalnya terjadi kepada seorang pedagang dari Mekkah yang berjulukan Atîq, saat berdagang ke Yaman. Sebagai pedagang yang juga intelektual, kemana pun pergi beliau tidak lupa untuk berkunjung ke kalangan agamawan.

Saat beliau menemui seorang agamawan di Yaman, dan beliau ditanya tentang asal daerah serta dari keluarga apa, maka setelah mendapatkan jawaban, sang agamawan itu menyatakan, “Nanti akan ada nabi akhir zaman dari daerah kamu dan dari keluarga kamu”. Beliau—Atîq—percaya atas informasi yang disampaikan agamawan Yaman itu. Begitu sang nabi muncul dan mendakwahkan kembali ajaran-ajaran Tauhîd [monotheisme] yang hilang, dia –Atîq– pun segera bersaksi atas kebenaran ajaran itu. Beliau menjadi laki-laki pertama yang membenarkan risalah yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. Saat masuk Islam itu, beliau mengganti nama menjadi Abû Bakar, yang kelak menjadi sahabat utama sang nabi akhir zaman dan mendapatkan gelar Ash-Shiddîq, yang senantiasa membenarkan. Ini adalah jawaban atas pertanyaan, kenapa Abû Bakar r.a. selalu saja membenarkan kebenaran Muhammad.

***

Dalam al-Qur’an, Allah s.w.t. berfirman, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?”. Mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu”. [QS. 3:81]

Para nabi berjanji kepada Allah s.w.t. bahwa bilamana datang seorang Rasul bernama Muhammad mereka akan iman kepadanya dan menolongnya. Perjanjian nabi-nabi ini mengikat pula para ummatnya. Namun, manusia selalu melakukan penentangan terhadap keputusan-keputusan Allah s.w.t. Para manusia itu ingkar, sebagaimana diceritakan dalam al-Qur’an, “Dan setelah datang kepada mereka Al Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada merekamaksudnya kedatangan Nabi Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat dimana diterangkan sifat-sifatnya—, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu”.(QS. 2:89)

Itulah manusia yang sangat tidak beruntung dengan melakukan penolakan terhadap kenabian Muhammad s.a.w. Maka, sangat tepat jika Nabi Muhammad s.a.w. bersabda dalam hadits yang penulis nukil pada permulaan di atas. Bahwa orang yang menjadi saudara Nabi s.a.w. adalah orang yang tidak pernah melihat Nabi s.a.w. namun percaya akan kenabian dan selalu membenarkan sabda-sabda beliau. Orang-orang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi s.a.w. tapi selalu membenarkan beliau itulah yang merupakan orang-orang paling utama di antara orang-orang beriman. Ya Allah, tetapkanlah kami untuk selalu beriman kepada-Mu dan kepada Nabi-Mu.

Âmîn. (Disarikan dari beberapa buku, terutama kitab Syarah Al-Barzanjî)

muslimdelft.nl

Mengenang Akhlak Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam

A’uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma salli ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sahbihi
wasallim

oleh Ustadz KH. Nadirsyah Hosen*

Setelah Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, “Ceritakan padaku akhlak Muhammad!”. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.

Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat
senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia
Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam. Dengan
berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air
mata berkata, “Ceritakan padaku keindahan dunia ini!.” Badui ini
menjawab, “Bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan
dunia ini….” Ali menjawab, “Engkau tak sanggup menceritakan
keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini
kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat
melukiskan akhlak Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, sedangkan Allah telah berfirman bahwa
sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]:
4)”

Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam yang sering disapa
“Khumairah” oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur’an
(Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur’an). Seakan-akan Aisyah ingin
mengatakan bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam itu bagaikan Al-Qur’an berjalan. Badui ini
tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia
harus melihat ke seluruh kandungan Qur’an. Aisyah akhirnya
menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu’minun [23]:
1-11.

Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari
pergaulannya dengan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh
akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka
terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu
menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam
interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.

Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, Aisyah hanya menjawab, “Ah semua perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. “Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, ‘Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.’” Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah.

Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam jugalah yang membikin khawatir hati Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, “Mengapa engkau tidur di sini?” Nabi Muhammmad menjawab, “Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.” Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mengingatkan, “berhati-hatilah kamu terhadap isterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya.” Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka.

Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat
tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Tempat sudah penuh sesak.
Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada
yang mau memberinya tempat. Di tengah kebingungannya, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam
memanggilnya. Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan
itu, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut
untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan
berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak
menjadikannya alas duduk akan tetapi malah mencium sorban Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tersebut.

Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita
junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk
tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari
seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam,
sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan
tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup
paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia.

Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca
kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang
paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam selalu memujinya. Abu Bakar-
lah yang menemani Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta
menjadi Imam ketika Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam sakit. Tentang Umar, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pernah
berkata, “Syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang
satu, maka Syetan lewat jalan yang lain.”
Dalam riwayat lain
disebutkan, “Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bermimpi meminum susu. Belum habis satu
gelas, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para
sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta’wil) mimpimu itu? Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam menjawab “ilmu pengetahuan.”

Tentang Utsman, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam sangat menghargai Utsman karena itu Utsman
menikahi dua putri Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, hingga Utsman dijuluki Dzu an-Nurain
(pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam bukan saja menjadikannya ia
menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan
Ali. “Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.” “Barang siapa
membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik.”

Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang rekan yang
punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih
tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan
yang sembilan. Ah…ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka
mencela
. Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.

Saya pernah mendengar ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Allah
pun sangat menghormati Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam. Buktinya, dalam Al-Qur’an Allah
memanggil para Nabi dengan sebutan nama: Musa, Ayyub, Zakaria, dll.
tetapi ketika memanggil Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam, Allah menyapanya dengan “Wahai
Nabi”. Ternyata Allah saja sangat menghormati beliau.

Para sahabat pun ditegur oleh Allah ketika mereka berlaku tak sopan
pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Alkisah, rombongan Bani Tamim menghadap Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam. Mereka ingin Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam menunjuk pemimpin buat mereka. Sebelum Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam memutuskan
siapa, Abu Bakar berkata: “Angkat Al-Qa’qa bin Ma’bad sebagai
pemimpin.” Kata Umar, “Tidak, angkatlah Al-Aqra’ bin Habis.” Abu
Bakar berkata ke Umar, “Kamu hanya ingin membantah aku saja,” Umar
menjawab, “Aku tidak bermaksud membantahmu.” Keduanya berbantahan
sehingga suara mereka terdengar makin keras. Waktu itu turunlah
ayat: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah
dan Rasul-Nya. Takutlah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha
Mendengar dan maha Mengetahui. Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu menaikkan suaramu di atas suara Nabi. janganlah kamu
mengeraskan suara kamu dalam percakapan dengan dia seperti
mengeraskan suara kamu ketika bercakap sesama kamu. Nanti hapus amal-
amal kamu dan kamu tidak menyadarinya”
(QS. Al-Hujurat 1-2)

Setelah mendengar teguran itu Abu Bakar berkata, “Ya Rasul Allah, demi
Allah, sejak sekarang aku tidak akan berbicara denganmu kecuali
seperti seorang saudara yang membisikkan rahasia.” Umar juga
berbicara kepada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan suara yang lembut. Bahkan konon kabarnya
setelah peristiwa itu Umar banyak sekali bersedekah, karena takut
amal yang lalu telah terhapus. Para sahabat Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam takut akan terhapus
amal mereka karena melanggar etiket berhadapan dengan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.

Dalam satu kesempatan lain, ketika di Mekkah, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam didatangi utusan
pembesar Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Ia berkata pada Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam, “Wahai
kemenakanku, kau datang membawa agama baru, apa yang sebetulnya kau
kehendaki. Jika kau kehendaki harta, akan kami kumpulkan kekayaan
kami, Jika Kau inginkan kemuliaan akan kami muliakan engkau. Jika ada
sesuatu penyakit yang dideritamu, akan kami carikan obat. Jika kau
inginkan kekuasaan, biar kami jadikan engkau penguasa kami”

Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam mendengar dengan sabar uraian tokoh musyrik ini. Tidak sekalipun
beliau membantah atau memotong pembicaraannya. Ketika Utbah berhenti,
Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bertanya, “Sudah selesaikah, Ya Abal Walid?” “Sudah.” kata
Utbah. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam membalas ucapan utbah dengan membaca surat Fushilat.
Ketika sampai pada ayat sajdah, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun bersujud. Sementara itu Utbah
duduk mendengarkan Nabi sampai menyelesaikan bacaannya.

Peristiwa ini sudah lewat ratusan tahun lalu. Kita tidak heran
bagaimana Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan sabar mendengarkan pendapat dan usul Utbah,
tokoh musyrik. Kita mengenal akhlak nabi dalam menghormati pendapat
orang lain. Inilah akhlak Nabi dalam majelis ilmu. Yang menakjubkan
sebenarnya adalah perilaku kita sekarang. Bahkan oleh si Utbbah, si musyrik, kita kalah. Utbah mau mendengarkan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan menyuruh kaumnya
membiarkan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berbicara. Jangankan mendengarkan pendapat orang kafir, kita bahkan tidak mau mendengarkan pendapat saudara kita sesama muslim. Dalam pengajian, suara pembicara kadang-kadang tertutup suara obrolan kita. Masya Allah!

Ketika Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tiba di Madinah dalam episode hijrah, ada utusan kafir
Mekkah yang meminta janji Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam bahwa Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam akan mengembalikan siapapun
yang pergi ke Madinah setelah perginya Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Selang beberapa waktu
kemudian. Seorang sahabat rupanya tertinggal di belakang Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam.
Sahabat ini meninggalkan isterinya, anaknya dan hartanya. Dengan
terengah-engah menembus padang pasir, akhirnya ia sampai di Madinah.
Dengan perasaan haru ia segera menemui Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan melaporkan
kedatangannya. Apa jawab Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam? “Kembalilah engkau ke Mekkah. Sungguh
aku telah terikat perjanjian. Semoga Allah melindungimu.”
Sahabat ini menangis keras. Bagi Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam janji adalah suatu yang sangat
agung. Meskipun Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam merasakan bagaimana besarnya pengorbanan sahabat
ini untuk berhijrah, bagi Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam janji adalah janji; bahkan meskipun
janji itu diucapkan kepada orang kafir. Bagaimana kita memandang
harga suatu janji, merupakan salah satu bentuk jawaban bagaimana
perilaku Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam telah menyerap di sanubari kita atau tidak.

Dalam suatu kesempatan menjelang akhir hayatnya, Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berkata pada
para sahabat, “Mungkin sebentar lagi Allah akan memanggilku, aku tak
ingin di padang mahsyar nanti ada diantara kalian yang ingin menuntut
balas karena perbuatanku pada kalian. Bila ada yang keberatan dengan
perbuatanku pada kalian, ucapkanlah!” Sahabat yang lain terdiam,
namun ada seorang sahabat yang tiba-tiba bangkit dan berkata, “Dahulu
ketika engkau memeriksa barisan di saat ingin pergi perang, kau
meluruskan posisi aku dengan tongkatmu. Aku tak tahu apakah engkau
sengaja atau tidak, tapi aku ingin menuntut qishash hari ini.” Para
sahabat lain terpana, tidak menyangka ada yang berani berkata seperti
itu. Kabarnya Umar langsung berdiri dan siap “membereskan” orang itu.
Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun melarangnya. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam pun menyuruh Bilal mengambil tongkat ke
rumah beliau. Siti Aisyah yang berada di rumah Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam keheranan ketika
Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam meminta tongkat. Setelah Bilal menjelaskan peristiwa yang
terjadi, Aisyah pun semakin heran, mengapa ada sahabat yang berani
berbuat senekad itu setelah semua yang Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam berikan pada mereka.

Rasul memberikan tongkat tersebut pada sahabat itu seraya
menyingkapkan bajunya, sehingga terlihatlah perut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam berkata, “Lakukanlah!”

Detik-detik berikutnya menjadi sangat menegangkan. Tetapi terjadi
suatu keanehan. Sahabat tersebut malah menciumi perut Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dan
memeluk Nabi seraya menangis, “Sungguh maksud tujuanku hanyalah untuk
memelukmu dan merasakan kulitku bersentuhan dengan tubuhmu!. Aku
ikhlas atas semua perilakumu wahai Rasulullah.”
Seketika itu juga
terdengar ucapan, “Allahu Akbar” berkali-kali. Sahabat tersebut tahu,
bahwa permintaan Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam itu tidak mungkin diucapkan kalau Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam tidak
merasa bahwa ajalnya semakin dekat. Sahabat itu tahu bahwa saat
perpisahan semakin dekat, ia ingin memeluk Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam sebelum Allah
memanggil Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam ke hadirat-Nya.

Suatu pelajaran lagi buat kita. Menyakiti orang lain baik hati maupun
badannya merupakan perbuatan yang amat tercela. Allah tidak akan
memaafkan sebelum yang kita sakiti memaafkan kita. Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun sangat
hati-hati karena khawatir ada orang yang beliau sakiti. Khawatirkah
kita bila ada orang yang kita sakiti menuntut balas nanti di padang
Mahsyar di depan Hakim Yang Maha Agung ditengah miliaran umat
manusia? Jangan-jangan kita menjadi orang yang muflis. Na’udzu
billah…..

Nabi Muhammad sallAllahu ‘alayhi wasallam ketika saat haji Wada’, di padang Arafah yang terik,
dalam keadaan sakit, masih menyempatkan diri berpidato. Di akhir
pidatonya itu Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam dengan dibalut sorban dan tubuh yang menggigil
berkata, “Nanti di hari pembalasan, kalian akan ditanya oleh Allah
apa yang telah aku, sebagai Nabi, perbuat pada kalian. Jika kalian
ditanya nanti, apa jawaban kalian?”
Para sahabat terdiam dan mulai banyak yang meneteskan air mata. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam melanjutkan, “Bukankah telah kujalani hari-hari bersama kalian dengan lapar, bukankah telah kutaruh beberapa batu diperutku karena menahan lapar bersama kalian, bukankah aku telah bersabar menghadapi kejahilan kalian, bukankah telah kusampaikan pada kalian wahyu dari Allah…..?” Untuk semua pertanyaan itu, para sahabat menjawab, “Benar ya Rasul!”

Rasul sallAllahu ‘alayhi wasallam pun mendongakkan kepalanya ke atas, dan berkata, “Ya Allah
saksikanlah…Ya Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah!”
. Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam
meminta kesaksian Allah bahwa Nabi telah menjalankan tugasnya. Di
pengajian ini saya pun meminta Allah menyaksikan bahwa kita mencintai
Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam. “Ya Allah saksikanlah betapa kami mencintai Rasul-Mu,
betapa kami sangat ingin bertemu dengan kekasih-Mu, betapa kami
sangat ingin meniru semua perilakunya yang indah; semua budi
pekertinya yang agung, betapa kami sangat ingin dibangkitkan nanti di
padang Mahsyar bersama Nabiyullah Muhammad, betapa kami sangat ingin
ditempatkan di dalam surga yang sama dengan surganya Nabi kami. Ya
Allah saksikanlah…Ya Allah saksikanlah Ya Allah saksikanlah”

Catatan Kaki:
*)Nadirsyah Hosen Dewan Asaatiz Pesantren Virtual

muslimdelft.nl

Kamis, 22 Januari 2009

Konsep Nur Muhammad dalam Al Quran

Konsep Nur Muhammad dalam Al Quran


Bismilahirrahmanirrahim Walhamdulillah Wassholatu Wassalamu `Ala Rasulillah, Wa’ala Aalihie Washohbihie Waman Walaah amma ba’du…

PENGANTAR

Beberapa kalangan dalam ummat Islam mempersoalkan konsep Nur Muhammad (Cahaya Muhammad atau Ruh Muhammad) sebagai suatu konsep yang tidak memiliki dasar dalam ‘aqidah Islam. Padahal, konsep Nur Muhammad adalah suatu konsep ‘aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah yang diterima dan diakui oleh ijma’ (konsensus) ulama ilmu kalam dan ulama’ tasawwuf (awliya’ Allah) dalam kurun waktu yang panjang, sebagai suatu konsep yang memiliki sumber dalilnya dari Quran dan Hadits Nabi sallAllahu ‘alayhi wasallam. Konsep ‘aqidah Nur Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam menyatakan antara lain bahwa cahaya atau ruh dari Nabi Besar Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah makhluq pertama yang diciptakan sang Khaliq, Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang kemudian darinya, Ia Subhanahu wa Ta’ala menciptakan makhluq-makhluq lainnya. Pada artikel ini, insha Allah akan dijelaskan, dalil-dalil qath’i (bukti yang pasti) berupa ayat-ayat Al Quran yang menyebutkan atribut Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam sebagai Nur (cahaya) yang dikaruniakan Allah Ta’ala bagi segenap alam semesta. Akan kita dapati pula, penjelasan dari berbagai ulama ahli tafsir (mufassir) akan makna ayat-ayat tersebut.


================================

Allah Subhanahu wa Ta’ala sendirilah yang menyebut Rasulullah sall-Allahu ‘alayhi wasallam sebagai Nuur (cahaya), atau sebagai “Siraajan Muniiran” (makna literal: Lampu yang Bercahaya).

Hal ini dapat kita perhatikan dari ayat-ayat berikut:

1. dalam QS. Al-Maidah 5:15
قَدْ جَاءكُم مِّنَ اللّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُّبِينٌ
“…Qad jaa-akum min-Allahi nuurun wa kitaabun mubiin”
“…Sungguh telah datang padamu dari Allah, nuur (cahaya) dan kitab yang jelas dan menjelaskan”

2. dalam QS.An-Nur 24:35
مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونِةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَى نُورٍ

“…Matsalu nuurihi kamisykaatin fiihaa mishbaah, al-mishbaahu fii zujaajah; az-zujaajatu kaannahaa kaukabun durriyyun yuuqadu min syajaratin mubaarakatin zaituunatin laa syarqiyyatin wa laa gharbiyyatin yakaadu zaituhaa yudhii-u wa lau tamsashu naarun; nuurun ‘alaa nuurin…”

“…Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti suatu misykat (bundel) di mana di dalamnya ada suatu lampu, lampu itu ada dalam gelas, dan gelas itu seperti bintang yang berkelip, dinyalakan dari pohon yang terberkati, suatu zaitun yang tak terdapat di timur maupun di barat, yang minyaknya saja hampir-hampir sudah bercahaya sekalipun api belum menyentuhnya; cahaya di atas cahaya…”

3. dalam QS. Al-Ahzab 33: 45-46

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِداً وَمُبَشِّراً وَنَذِيراً

وَدَاعِياً إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجاً مُّنِيراً

“Yaa Ayyuhan Nabiyyu inna arsalnaaka Syahiidan wa Mubassyiran wa Nadziiran. Wa Daa-’iyan ila-Allahi bi-idznihii wa Sirajan Muniiran“

“Wahai Nabi sesungguhnya Kami telah mengutusmu sebagai seorang Saksi, Seorang Pembawa kabar gembira, dan seorang Pemberi Peringatan, dan sebagai Seorang Penyeru (Da’i) kepada Allah dengan izin-Nya, dan
sebagai suatu Lampu yang menebarkan Cahaya“.

TAFSIR DAN INTERPRETASI AYAT

I. Mengenai ayat pertama (5:15)

- Qadi ‘Iyad berkata, “Beliau (Nabi) dinamai cahaya (Nuurun) karena kejelasan perkaranya dan karena fakta bahwa Nubuwwahnya (Kenabiannya) telah dijadikan amat jelas, dan juga karena menerangi cahaya orang-orang mukmin dan ‘arif billah dengan apa yang beliau bawa.”

- Suyuti dalam Tafsir al-Jalalayn, Fayruzzabadi dalam Tafsir Ibn ‘Abbas berjudul Tanwir al-Miqbas (hlm. 72), Shaykh al-Islam, Imam Fakhr al-Din ar-Razi, Mujaddid abad keenam, dalam Tafsir al-Kabir-nya (11:189), Qadi Baydawi dalam Tafsirnya yang berjudul Anwar al-Tanzil, al-Baghawi dalam Tafsir-nya berjudul Ma’aalim
al-Tanzil (2:23), Imam al-Shirbini dalam Tafsirnya berjudul al-Siraj al-Munir (hlm. 360), pengarang Tafsir Abi Sa’ud (4:36), dan Thana’ullah Pani Patti dalam Tafsir al-Mazhari-nya (3:67) berkata: “Apa yang dimaksudkan sebagai suatu Cahaya (Nuurun) adalah: Muhammad, sallalLahu ‘alayhi wasallam.”

- Ibn Jarir al-Tabari dalam Tafsir Jami’ al-Bayan-nya (6:92) berkata: “Telah datang padamu Cahaya (Nuurun) dari Allah: Ia maksudkan dengan Cahaya adalah: Muhammad, sallalLahu ‘alayhi wasallam, dengan mana Allah telah menerangi kebenaran, membawa Islam maju dan memunahkan kesyirikan. Karena itu beliau (Nabi) adalah suatu cahaya (nuurun) bagi mereka yang telah tercerahkan oleh beliau dan oleh penjelasannya akan kebenaran.”

- al-Khazin dalam Tafsir-nya (2:28) mengatakan serupa: “Telah datang padamu Cahaya (Nuurun) dari Allah bermakna: Muhammad, sallalLahu ‘alayhi wasallam. Allah menyebut beliau cahaya tidak dengan alasan apa pun melainkan karena seseorang terbimbing olehnya (Muhammad SallAllahu ‘alayhi wasallam) dengan cara yang sama seperti seseorang terbimbing oleh cahaya dalam kegelapan.”

- Sayyid Mahmud al-Alusi dalam tafsirnya berjudul Tafsir Ruhul Ma’ani (6:97) secara serupa berkata: “Telah datang padamu suatu cahaya (Nuurun) dari Allah: adalah, suatu cahaya yang amat terang yaitu cahaya dari cahaya-cahaya dan yang terpilih dari semua Nabi, sallalLahu ‘alayhi wasallam.”

- Isma’il al-Haqqi dalam komentarnya atas Alusi berjudul Tafsir Ruh al-Bayan (2:370) secara serupa juga berkata: “Telah datang padamu Cahaya (Nuurun) dari Allah dan suatu Kitab yang menjelaskan segala
sesuatu: dikatakan bahwa makna yang awal (yaitu NUUR) adalah Rasulullah, sallalLahu ‘alayhi wasallam, dan yang berikutnya (Kitabun Mubin, penerj) adalah Quran….

Rasulullah sallAllahu ‘alayhi wasallam disebut Cahaya (Nuurun) karena yang pertama yang dibawa keluar dari kegelapan kelalaian dengan cahaya dari kekuatan-Nya, adalah cahaya (Nuur) Muhammad, sallalLahu ‘alayhi wasallam, sebagaimana beliau (Nabi Sall-Allahu ‘alayhi wasallam) pernah bersabda: ‘Hal pertama yang Allah ciptakan adalah cahayaku.”

Riwayaat ini berkenaan dengan pertanyaan Jabir ibn ‘Abd Allah yang bertanya tentang apa yang diciptakan Allah pertama kali sebelum segala sesuatu lainnya.

Riwayat ini diriwayatkan oleh ‘Abd al-Razzaq (wafat 211H) dalam Musannaf-nya, menurut Imam Qastallani dalam al-Mawahib al-Laduniyya (1:55) dan Zarqani dalam Syarah
al-Mawahib (1:56 dari edisi Matba’a al-’amira di Kairo). Tidak ada keraguan akan Abd Razzaq sebagai rawi (periwayat Hadits). Bukhari mengambil 120 riwayat darinya, Muslim 400. Riwayat ini dinyatakan pula sahih oleh Abd al-Haqq ad-Dihlawi (wafat 1052), ahli hadits India, juga disebut oleh ‘Abd al-Hayy al-Lucknawi (wafat 1304 H) ahli hadits kontemporer India. Demikian pula oleh Al-Alusi dan Bayhaqi dengan matan [redaksi susunan kata hadits, penerj.] yang berbeda, dan juga oleh beberapa ulama lain.

Sebagai suatu catatan khusus adalah suatu fakta bahwa kaum Mu’tazili [kaum yang terlalu mengandalkan ra'yu atau logika akal, penerj.] berkeras bahwa Cahaya dalam ayat 5:15 merefer hanya pada Quran dan tidak pada Nabi. Alusi berkata dalam kelanjutan kutipan di atas: “Abu ‘Ali al-Jubba’i berkata bahwa cahaya/nuurun berkaitan dengan Quran karena Quran membuka dan memberikan jalan petunjuk dan keyakinan. al-Zamakhshari (dalam al-Kasysyaf 1:601) juga puas dengan penjelasan ini.” Penjelasan yang lebih dalam akan dua pendapat ini dijelaskan oleh Shah ‘Abd al-’Aziz al-Multani dalam al-Nabras (hlm. 28-29): “al-Kasysyaf memproklamasikan dirinya sebagai Bapak Mu’tazilaa… Abu ‘Ali al-Jubba’i adalah seperti Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab-nya kaum Mu’tazila Basra.” Kesamaan antara pendapat Mu’tazila dengan Wahhabi dan “Salafi” modern ditekankan oleh Imam Kawtsari di banyak tempat di kitab Maqalat-nya, di mana beliau menunjukkan bahwa seperti halnya Mu’tazilah, penolakan kaum Wahhabi (dan juga Salafi modern, penerj.) atas karakteristik awliya’ adalah kamuflase atas penolakan (karakteristik) yang sama dari diri para Nabi.

Ada suatu penjelasan yg patut dicatat di antara Ahlus Sunnah yang mendeskripsikan makna Nabi baik kepada Cahaya (Nuurun) maupun Kitab, al-Sayyid al-Alusi berkata dalam Ruh al-Ma’aani (6:97): “Saya tidak menganggapnya dibuat-buat bahwa yang dimaksud baik dengan Cahaya (Nuurun) maupun Kitabun Mubin adalah sang Nabi, konjungsi dengan cara yang sama seperti yang dikatakan al-Jubba’i (bahwa baik Cahaya maupun Kitab adalah Quran). Tidak ada keraguan bahwa dapat dikatakan semua merefer ke Nabi. Mungkin Anda akan ragu utk menerima ini dari sudut pandang ‘ibara (ekspresi); tapi cobalah dari sudut pandang ‘isyarah.”

- Al-Qari berkata dalam Syarah al-Shifa’ (1:505, Mecca ed), bahwa “Telah pula dikatakan bahwa baik Cahaya maupun Kitab merefer pada Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam, karena beliau adalah suatu cahaya yang cemerlang dan sumber dari segala cahaya, beliau adalah pula suatu kitab/buku
yang mengumpulkan dan memperjelas segala rahasia.” Ia juga berkata (1:114, Madina ed.): “Dan keberatan apa untuk mempredikatkan kedua kata benda itu pada Nabi, karena beliau secara hakikat adalah Cahaya yang Terang karena kesempurnaan penampilannya (tajallinya) di antara semua cahaya, dan beliau adalah suatu Kitab Nyata karena beliau mengumpulkan keseluruhan rahasia dan membuat jelas seluruh hukum, situasi, dan alternatif.”

II. Mengenai ayat kedua (QS. 24:35)

- Imam Suyuti berkata dalam al-Riyad al-Aniqa: Ibn Jubayr dan Ka’b al-Akhbar berkata: “Apa yang dimaksud dengan cahaya (nuurun) kedua (dalam ayat tersebut, penerj.) adalah Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam karena beliau adalah Rasul dan Penjelas dan Penyampai dari Allah apa-apa yang memberi pencerahan dan kejelasan.” Ka’b melanjutkan: “Makna dari ‘Minyaknya hampir-hampir bercahaya’ adalah karena kenabian Nabi akan dapat diketahui orang sekalipun beliau tidak mengatakan bahwa beliau adalah seorang Nabi, sebagaimana minyak itu juga akan mengeluarkan cahaya
tanpa tersentuh api.”

- Ibn Kathir mengomentari ayat ini dalam Tafsir-nya dengan mengutip suatu laporan via Ibn ‘Atiyya dimana Ka’b al-Ahbar menjelaskan firman-firman Allah: “…yakadu zaytuha yudhi-u wa law lam tamsashu nar…”, sebagai bermakna: “Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam sudah hampir jelas sebagai seorang Nabi bagi orang-orang, sekalipun beliau tidak mengumumkannya.”

- Qadi ‘Iyad berkata dalam al-Syifa’ (edisi English p. 135): Niftawayh berkata berkaitan dengan kata-kata Allah: “…minyaknya hampir-hampir bercahaya sekalipun api tidak menyentuhnya…” (24:35): “Ini adalah perumpamaan yang Allah berikan berkaitan dengan Nabi-Nya. Ia berkata bahwa makna ayat ini adalah bahwa wajah ini (wajah Rasulullah SAW, pen.) telah hampir menunjukkan kenabiannya bahkan sebelum beliau menerima wahyu Quran, sebagaimana Ibn Rawaha berkata:

Bahkan jika seandainya tidak ada tanda-tanda nyata di antara kami,
wajahnya telah bercerita padamu akan berita-berita.”

- Di antara mereka yang berkata bahwa makna “matsalu nuurihi” — perumpamaan Cahaya-Nya — adalah Nabi Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam adalah: Ibn Jarir at-Tabari dalam Tafsir-nya (18:95), Qadi ‘Iyad dalam al-Syifa’, al-Baghawi dalam Ma’alim al-Tanzil (5:63) dalam catatan al-Khazin, dari Sa’id ibn Hubayr dan
ad-Dahhak, al-Khazin dalam Tafsir-nya (5:63), Suyuti dalam ad-Durr al-Mantsur (5:49), Zarqani dalam Syarah al-Mawahib (3:171), al-Khafaji dalam Nasim ar-Riyad
(1:110, 2:449).

- al-Nisaburi dalam Ghara’ib al-Quran (18:93) berkata: “Nabi adalah suatu cahaya (Nuurun) dan suatu lampu yang memancarkan cahaya.”

- al-Qari dalam Syarah al-Shifa’ berkata: “Makna yang paling jelas adalah untuk mengatakan bahwa yang dimaksud dengan cahaya (Nuur) adalah Muhammad sall-Allahu ‘alayhi wasallam.”

III. Mengenai ayat ketiga (QS. 33: 45-46)

- Qadi al-Baydawi berkata dalam Tafsir-nya: “Itu adalah matahari berdasarkan firman-Nya: “Telah Kami jadikan matahari sebagai suatu lampu”; atau, itu mungkin berarti suatu lampu”.

- Ibn Kathir menyatakan dalam Tafsirnya: “Firman-Nya: ‘…dan suatu lampu yang bersinar’, adalah: statusmu (Wahai Nabi, penj) nampak dalam kebenaran yang telah kau bawa sebagaimana matahari nampak saat terbitnya dan bercahaya, yang tak bisa disangkal siapa pun kecuali yang keras-kepala.”

- Raghib al-Asfahani dalam al-Mufradat (1:147) berkata: “kata itu (lampu) digunakan untuk segala sesuatu yang mencahayai.”

- al-Zarqani dalam Syarah al-Mawahib (3:171) berkata: “Beliau dinamai Lampu karena dari satu lampu muncul
banyak lampu, dan cahayanya tidak berkurang.”

- `Abd Allah ibn Rawaha al-Ansari cucu dari penyair Imru’ al-Qays berkata tentang Nabi sall-Allahu ‘alayhi wasallam:

law lam takun fihi ayatun mubina

lakana manzaruhu yunabbi’uka bi al-khabari

“Bahkan seandainya, tidak ada ayat (tanda) berkenaan dengan ia (SAW), yang nyata dan jelas

sungguh memandangnya saja sudah bercerita padamu akan khabar/berita”

Ibn Hajar meriwayatkannya dalam al-Isaba (2:299) dan berkata: “Ini adalah syair terindah dengan mana Nabi pernah dipuji.” Ibn Sayyid al-Nas berkata tentang Ibn Rawaha ini dalam Minah al-Madh (hlm.. 166):

“Ia terbunuh sebagai syahid di perang Mu’ta pada 8 JumadilAwwal sebelum Fathu Makkah (Penaklukan Makkah). Di hari itu ia adalah salah satu dari komandan. Ia adalah salah seorang dari penyair yang berbuat
kebaikan dan biasa menangkis segala bahaya yang menyerang Rasulullah. Adalah berkenaan dengan dia dan dua temannya Hassan (ibn Tsabit) dan Ka’b (ibn Zuhayr) yang disinggung dalam ayat “Kecuali mereka yang
beriman dan berbuat kebajikan dan bedzikir pada Allah sebanyak-banyaknya.” (As-Syu’ara 26:227).”

- Dan sebagai atribut dari Allah adalah Dzu al-Nur
yang berarti Sang Pencipta cahaya, dan Penerang langit dan bumi dengan cahaya-cahaya-Nya, juga sebagai Penerang qalbu orang2 mukmin dengan petunjuk/hidayah. Imam Nawawi berkata Syarah Sahih Muslim, dalam komentarnya atas doa Nabi yang dimulai dengan: “Ya Allah, Engkaulah Cahaya Langit dan bumi dan milik-Mu lah segala puji…” (Kitab Salat al-Musafirin #199):

“Para ulama berkata bahwa makna “Engkau adalah cahaya langit dan bumi” adalah: Engkaulah Dzat Yang menyinari mereka (langit dan bumi) dan Pencipta cahaya mereka. Abu ‘Ubayda berkata: “Maknanya adalah bahwa dengan cahaya-Mu penduduk langit dan bumi memperoleh hidayah.”

al-Khattabi berkata dalam komentarnya atas nama Allah an-Nur: “Itu berarti Ia yang dengan cahaya-Nya yang buta dapat melihat, dan yang tersesat dapat terbimbing, di mana Allah adalah cahaya langit dan bumi, dan adalah mungkin bahwa makna al-Nur adalah: Dzu al-Nur, dan adalah tidak benar bahwa al-Nur adalah atribut dari Zat Allah, karena itu hanyalah atribut dari aksi (sifatu fi’li), yaitu: Ia adalah Pencipta dari cahaya.” Yang lain berkata: “Makna cahaya langit dan bumi adalah: Sang Pengatur matahari dan bulan dan bintang-bintang mereka (langit dan bumi).”"

Penutup

“Kebenaran adalah dari Tuhanmu, dan janganlah kau termasuk mereka yang ragu” (kutipan maknawi dari Quran).

Sumber: Tulisan Maulana Shaykh Hisham Muhammad Kabbani dan Shaykh Dr. G.F. Haddad
------
muslimdelft.nl